Minggu, 27 November 2011

Pengalaman Waktu SD

Selalu begini. Susah memulai dari mana. Menulis apapun bagiku selalu sulit untuk menentukan kalimat yang akan menjadi awalannya. Dan hasilnya PR mendadak dangdut yang diberikan mbak Riri ini juga molor dari target yang kutentukan sendiri yaitu hari Jumat kemaren. Aku melotot di depan halaman Word dengan sebaris kalimat Pengalaman waktu SD yang kuketik sekitar setengah jam sebelumnya (aku terbiasa menulis entry blog-ku di word, bukan hanya entry blog, notes FB juga, mungkin warisan kebiasaan menulis thesis dan beragam jurnal ilmiah yang notabene harus pake Word, otakku buntu jika harus menulis di laman entry blog original. Hihihi, aneh apa wajar ya ini,,,?). Berkali – kali aku menyusun dua tiga kalimat, lalu kuhapus. Berasa aneh, feelnya gak masuk dan berbagai alasan lain. Akhirnya, jumat kemarin aku menyerah saja. File itu aku save dengan hanya ada judul didalamnya. Dengan janji bahwa weekend ini harus SELESAI!!

Dan itu dimulai pada bulan Juli tahun 1990. Kisah yang lebih banyak berwarna Abu – abu. Kisah yang sebenarnya tidak ingin aku bagi. Kisah yang akhirnya tidak membentukku menjadi seorang anak yang gagal melewati masa kanak – kanak nya. Aku melaluinya dengan mulus. Kelas 1A. Aku masuk SDN Puger Kulon 1 ketika usiaku baru 5.5 tahun. Harusnya aku masih duduk di TK Besar. Tapi jaman dulu tidak ada batasan usia minimal untuk masuk SD, bahkan ada temanku yang baru umur 5 ketika masuk SD. Guru SD kelas 1-ku bernama Riwajati. Kami memanggilnya bu Yati. Orangnya cantik sekali. Dalam ingatanku kulit Bu Yati sangat putih, rambutnya berombak, dan senyumnya selalu mengembang. Beliau sangat telaten mengajari kami mengenal huruf, merangkainya menjadi kata, mengajari berhitung sederhana (jaman dulu materi pelajaran kelas 1 adalah pelajaran sederhana, tidak seperti materi pelajaran keponakanku sekarang,.. Susyeehh). Aku ingat Bu Yati yang cantik dan penyabar beberapa kali mendapat hadiah tendangan dari murid2 yang berontak ketika diimunisasi (sekarang masih ada gak ya imunisasi untuk pelajar sekolah yang jarumnya 1 untuk seluruh isi kelas??). Tidak ada yang spesial di kelas satu kecuali 2 kali imunisasi yang menghebohkan itu. Sebentar. Ada. Aku pernah dikira diculik. Waktu itu sekolah pulang pagi. Dan aku tidak pulang ke rumah. Aku ikut kawanku pulang kerumahnya yang jaraknya cukup jauh dari rumahku. Akhirnya menjelang duhur, setelah lama bermain, aku diantar pulang oleh kakak kawanku itu dengan dibonceng sepeda. Sampai di rumah, ternyata sudah banyak orang berkerumun di depan rumahku, bapak, ibuk, paklek, bulek, embah dan tetangga2. Aku hanya bengong ketika turun dari boncengan kakak kawanku itu. Yang kuingat, bapak langsung menggendongku. Ternyata kakakku yang bertugas menjemputku di sekolah pulang dengan menangis, dia khawatir aku diculik karena menurut tukang becak yang mangkal di depan sekolahku, sekolah sudah selesai sejak pukul 8 pagi. Pada tahun itu memang sedang ramai kasus penculikan di kota besar. Tapi aku tinggal di desa, dan aku hanya main ke rumah teman.
Kelas 2. Aku kebagian kelas siang yang artinya aku masuk sekolah jam 10 siang, pulang jam 12, kembali lagi ke sekolah jam 2 untuk les (komersialisasi pendidikan waktu itu, setiap murid wajib ikut les). Yang aku ingat waktu kelas 2 adalah aku harus menyiapkan keperluan sekolahku sendiri, karena ibuku sudah berangkat ke sekolah pagi – pagi (ibuku dulunya seorang guru yang kemudian beralih menjadi staf TU di SMP tempatnya mengabdi dari awal pengangkatan hingga pensiun) dan bapakku ke sawah. Pernah satu kali di sekolah badanku penuh dengan bentol – bentol yang rasanya gatal dan panas. Rupanya ada ulat bulu yang menempel di handukku. Karena guru kelasku laki2 waktu itu –yang menurutku agak sedikit kurang perhatian kepada murid2nya– maka aku hanya bisa mojok di ruang kelas sambil menangis. Tak ada yang menolong. Duh, kasian ya?
Kelas 3. Bibit – bibit kenakalanku mulai berkecambah di sini. Penyebabnya? Guruku kelas 3 sangat pilih kasih. Banyak hal – hal yang dia tuduhkan kepadaku. Entah apa penyebabnya. Aku dituduh membuka rok kawan – kawan perempuanku (hello?? Bu saya ini straight lho.. Dan gambar CD saya jauh lebih lucu dari pada punya kawan2 itu). Permainan cabul anak laki2 ini tidak jarang dituduhkan kepadaku. Entah atas alasan apa beliau menuduhku begitu – belakangan aku tahu kalau anak2 perempuan mayoritas di kelasku lah yang mengadu kepada guruku. Dan hasilnya, aku benar2 membuka rok anak2 perempuan tukang mengadu itu. Toh, melakukan atau tidak, aku tetap akan dituduh dan dihukum! Yang aku ingat waktu kelas 3 aku jarang bergaul dengan anak2 perempuan, aku lebih sering menyendiri, menyedihkan. Terkadang aku menjadi bagian dari kaum minority. Tapi kawan2 minority-ku itu menyenangkan. Banyak hal yang akhirnya bisa kubagi dengan mereka. Dan merekapun berbagi denganku. Cerita – cerita lucu, permainan konyol dan banyak hal yang membentukku sebagai murid SD kelas 3 tanpa tekanan. Guruku? Masih tetap. Di kelas, tunjuk jariku tak jarang diabaikan. Aku baru ditunjuk kalau aku jadi satu2nya orang yang tunjuk jari atas pertanyaannya. Dan aku menjawab dengan benar. Menyedihkan.
Menginjak kelas 4 aku mulai bersosialisasi dengan mayoritas kawan2 perempuanku. Tidak ada lagi tuduhan – tuduhan nyeleneh. Kali ini Guruku seorang laki2 yang jangkung dan botak dengan kacamata tebal dan bersuara sangat lantang. Namanya Pak Pardji. Di kelas 4, kami kedatangan murid baru, namanya Astri (sampai sekarang aku dan Astri akhirnya menjadi kawan yang dekat. Hampir sangat dekat). Aku ingat pernah membalas dendam kepada anak2 perempuan tukang mengadu. Aku menantang mereka untuk berkelahi di lapangan depan sekolahku. Aku menunggu mereka datang. Aku sendirian. Dan yang datang malah guru olahragaku. Beliau menyuruhku pulang. Hahaha. Cemen juga mereka rupanya. Dasar tukang mengadu.
Dan yang terberat dari hari2ku duduk di bangku SD adalah kelas 5 dan kelas 6. Aku tidak pernah tahu apa yang menjadi kesalahanku sehingga aku sangat sering diintimidasi oleh guruku. Di kelas 5 aku bertemu kembali dengan guru kelas 3 ku. Dan penyiksaannya kepadaku rupanya belum berhenti. Puncaknya di pelajaran Bahasa Indonesia karanganku dinilainya 60 tanpa dibaca terlebih dahulu. Karangan itu bercerita tentang cita – citaku. Aku menulis aku ingin menjadi insinyur seperti pak Habibie. Aku ingin membangun gedung – gedung bertingkat, membangun jembatan yang besar dan kokoh. Aku tidak tahu kalau pak Habibie itu bukan arsitek bangunan melainkan arsitek pesawat terbang. Yang kutahu waktu itu Insinyur-lah yang membangun gedung dan jembatan. Pak Habibie seorang Insiyur. Dan aku ingin menjadi insinyur. Kertas itu kuremas menjadi gumpalan bola. Dan aku menangis. Menangis karena cita – citaku sama sekali tak di hargai guruku. Padahal itu benar2 cita – citaku. Mimpiku. Mimpi anak kelas 5 SD. Mimpi yang bagi guruku mungkin nyeleneh karena hampir seluruh kawan2ku menuliskan dokter, pilot, guru, tentara atau polisi di lembar karangan mereka. Dan mereka mendapat nilai 75-90. Di akhir pelajaran, setelah tahu aku menangis, beliau memanggilku. Kupikir beliau akan merubah sudut pandangnya. Ternyata tidak. Beliau membacanya di depan kelas sambil menertawakannya. ‘Mosok pak habibie jarene arsitek?’ itu yang tertanam di otakku sampai sekarang. Yang ajaib, sampai sekarang, aku tidak berhasil dalam setiap usahaku untuk membencinya. Yang ada setiap aku mengenang karangan tentang cita – citaku itu aku berjanji, aku tidak akan pernah meremehkan cita – cita seorang anak. Tidak akan pernah.
Walaupun sering bersikap aneh begitu, guru kelas 5 ku ini lumayan baik hati. Aku sering disuruhnya menjaga jajanan yang dijual dikantinnya. Upahnya aku mendapat semangkok bakso (yang tak mampu kubeli dengan uang jajanku, hihi, melas) di jam istirahat siang. Untuk bisa menjaga kantin, aku harus berangkat pagi – pagi sekali, karena 2 anak yang pertama datang-lah yang berhak menjaga kantinnya. Karena aku ingin bakso gratis, maka aku sering berangkat sekolah  jam 6 pagi, karena kesiangan berarti kehilangan kesempatan untuk menjaga kantin.
Kepala sekolahku lebih merupakan seorang monster dari pada sosok yang mengayomi. Bibit kenakalan yang berkecambah di kelas 3 tumbuh subur di kelas 4  dan 5. Buahnya kupetik di kelas 6. Aku bolak – balik dipanggil ke ruang kepala sekolah. Sebabnya? Aku melakukan pemakaran. Karena kakiku dipukul dengan penggaris sebagai hukuman atas hal yang tidak kulakukan, aku berhenti menyapa guru kelasku. Aku mengabaikan semua panggilannya. Aku tidak mencium tangannya setiap sekolah usai. Aku marah. Waktu itu di kelasku sedang ngetrend memukul bangku berjama’ah. Ritmenya: siaaaap grak, BRAK, kepada bendera merah putih, hormat grak, BRAK, berdoa mulai, BRAK, berdoa selesai, BRAK, salam kepada guru, BRAK, slaaamaat pagi paaaaak guuuruuu..... Dan aku tidak ikut. Aku dan beberapa kawanku tidak pernah ikut menggebrak bangku. Tapi seluruh kelas dibariskan. Antre untuk mendapat satu pukulan penggaris di betis. Tidak sakit, tapi harga diriku terluka. Berkali – kali dihukum atas tuduhan yang tidak kulakukan, akhirnya aku berontak. aku makar. Dan kepala sekolahku, alih – alih mengevaluasi sang guru, dia malah memanggil kami bertiga, aku Astri dan Wiwid. Dengan tiga dakwaan yang berbeda. Embuh. Aku terlalu marah mungkin ketika itu, hingga aku lupa bagaimana kami berhasil melewati tekanan itu.
Aku membalas kepala sekolah-ku dengan telak ketika berhasil menjuarai turnamen P4 tingkat kecamatan, sebulan kemudian aku mewakili kecamatanku untuk lomba Matematika di tingkat kabupaten. Dan puncaknya aku meraih NEM tertinggi se kecamatan. Dengan semua catatan abu-abu yang kuperoleh di Sekolah Dasar, aku sempat heran, bagaimana bisa aku mendapat prestasi yang begitu memuaskan. Jawabannya adalah ibuku. Setiap malam, aku didampinginya belajar, disulamnya lembar jiwaku yang koyak hingga kembali menjadi kain yang kuat, di pompakannya selalu semangat dalam diriku. Ibuku menjadi guruku yang sesungguhnya, yang tidak hanya mengajariku memahami pelajaran yang sebenarnya, tapi ibuku juga selalu mendidikku untuk kuat menghadapi situasi di sekolahku.
Kini, bertahun – tahun setelah lulus dari SD, aku masih bertemu dengan guru2ku itu sekali waktu. Bahkan kepala sekolahku teman arisan purnakarya ibuku. Aku tidak berhasil membenci beliau2, aku masih menghargai dan menghormati beliau2 sebagai guru2ku. Menurutku, mungkin karena aku sudah membuktikan diri  –dibantu sepenuhnya oleh ibuku- untuk bisa berprestati ditengah segala tekanan yang diberikan oleh beliau2, itu sudah cukup membalas sakit hatiku. Sudah jauh lebih dari cukup.

Pajang 02, 26 Nop 2011 menjelang tengah malam. Dengan sedikit air mata mengenang warna abu2 dari lembar sejarah masa kecilku.

4 komentar:

Ririe Khayan mengatakan...

Meski berlatar 'abu-abu'...tapi prestasinya amzing euy, two thumbs up deh... ..Tengkyuuu dah ngerjainn PRnya. MAu PR lagi gak> wkwkwkkkkk

Nurulnulur mengatakan...

PR boleh aja buuu.... tapi jangan yang menguras air mata lagi yaaa...? wkwkwkw

al kahfi mengatakan...

ngomong2 tentang PR kok jd minder nih,,punya saya belum selesai alamat bakal dapat setrap bu guru

Nurulnulur mengatakan...

ayo ndang digarap mas kahfi,.... kalo bu guru yg nyetrap si gapapa,,,, kalo mba Ririe yg nyetrap bisa2 gawat tuh